Logo Design by FlamingText.com

Running News

Bertanam sengon

Bertanam Sengon Laut






BUDIDAYA SENGON ALBASIA

Albasia yang dalam bahasa latin bernama albazia falcataria itu,di beberapa daerah di Indonesia memiliki nama yang berbeda- beda. Di tatar sunda misalnya, albasia dinamai jengjeng atau jengjen, di sebagian Jawa tengah dan jawa timur albasia biasa disebut sengon, sedangkan di Ambon orang menyebut seja.
Albasia dikenal memiliki toleransi yang baik terhadap jenis tanah, ketinggian tempat, tingkat keasaman, dan kesuburan tanah. Itu sebabnya tanaman ini banyak dijumpai dimana-mana.
Dalam kelompok tanaman kehutanan, albasia termasuk salah satu tanaman pioner.
Disamping memiliki toleransi yang baik, albasia memiliki kelebihan lain, diantaranya pertumbuhan cepat, kwalitas kayu cukup baik, bobotnya ringan, dan dapat dipanen pada umur muda. Meskipun begitu, bila anda menghendaki tanaman ini tumbuh subur, sehat, dan cepat menghasilkan sebaiknya anda memahami karakteristitk dan teknologi budidayanya.
Banyak diantara petani albasia pada akhirnya merugi akibat kurangnya pengetahuan tentang hal ini.
Berikut beberapa catatan teknis sekitar budidaya albasia yang sebagian besar berdasarkan pengalaman dilapangan.



PENGADAAN BIBIT

Penyediaan bibit tanaman yang dalam istilah budidaya tanaman kehutanan suka disebut pengadaan bibit merupakan salah satu pekerjaan pokok yang sangat mempengaruhi keberhasilan usahatani . Pengadaan bibit, bisa dilakukan dengan mendatangkan bibit yang sudah siap ditanam (sebut : siap tanam) dengan cara membeli dari penangkar bibit, atau memproduksi sendiri dengan cara membuat persemaian.



PENGADAAN BIBIT SIAP TANAM

Pengadaan bibit siap tanam dengan cara pembelian memang cukup praktis, karena cara ini dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.
Disamping itu, pembeli bisa melakukan seleksi fisik dengan cara memilih bibit sesuai keinginan, sehingga kemungkinan mendapatkan bibit yang baik “secara fisik” menjadi lebih besar.
Pengadaan bibit dengan cara ini memiliki kelemahan, yaitu anda kadang- kadang tidak mengetahui sejauhmana si penangkar dapat memenuhi prosedur dan persyaratan teknis untuk mendapatkan bibit unggul.
Bibit yang baik, tidak cukup ditentukan oleh penampilan fisiknya saja, tetapi harus memiliki sifat-sifat unggul.
Upaya memperoleh bibit unggul diantaranya benih (biji) yang disemai harus berasal dari pohon induk yang memiliki sifat-sifat unggul antara lain tumbuh genjah, pohon lurus tinggi dan besar,umurnya cukup, tahan terhadap hama dan penyakit, perakaran kokoh, tahan patah dan lain sebagainya.
Disamping itu, benih yang baik harus berasal dari polong yang sudah matang dan memiliki masa dormansi yang cukup. Masa dormansi adalah masa optimum istirahat biji, sehingga lembaga ( pada biji) memiliki kemampuan optimum saat berkecambah dan bertumbuh.
Biji yang kurang masa dormansinya atau berasal dari polong yang belum matang biasanya tidak memiliki kemampuan tumbuh yang baik dan tidak tahan terhadap serangan hama, penyakit dan gangguan lainnya.
Anda sebaiknya bisa memperkecil kelemahan pengadaan bibit cara ini, misalnya dengan cara membeli bibit bersertifikat dari penangkar yang memiliki legalitas penangkaran atau paling tidak bisa mengetahui asal-usul bibit tersebut.


PEMBUATAN PERSEMAIAN

Apabila membuat persemaian sendiri, hendaknya proses produksi bibit dapat dilakukan optimal diantaranya asal usul benih diketahui, perlakuan penyelenggaraan persemaian dapat mengikuti prosedur yang benar. Lebih baik bila pembuatan persemaian dilakukan “di” atau “mendekati” calon lokasi penanaman.
Keuntungan penempatan persemaian di lokasi atau mendekati lokasi penanaman diantaranya kerusakan bibit pada proses pengangkutan bisa ditekan, ongkos angkut lebih murah,dan bibit bisa beradaptasi dengan kondisi lahan setempat.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan persemaian diantaranya :
bibit albasia lebih menghendaki penyinaran tinggi.
Persemaian di bawah naungan pohon “apalagi di musim penghujan” sebaiknya tidak dilakukan untuk menghindari rontok daun atau busuk batang dan akar sebagai akibat lanjut dari kelembaban yang tinggi.
Naungan pada persemaian albasia sebaiknya digunakan apabila benar-benar diperlukan, misalnya pada musim kemarau dimana terjadi penguapan yang terlalu tinggi, atau di tempat-tempat dengan suhu tinggi.
Bibit yang mendapat penyinaran cukup menunjukan fisik lebih kuat diantaranya daun tebal, batang kekar, dan perakaran kokoh.
Bibit dari persemaian dengan intensitas cahaya rendah menunjukan postur bibit kurang kuat, karena bibit menjadi terlalu cepat tinggi sehingga batang menjadi kecil memanjang.
Bibit demikian biasanya mudah rusak pada proses pengangkutan, lemah pada proses adaptasi saat ditanam, dan kurang tahan serangan hama dan penyakit.
Persyaratan teknis lokasi persemaian, pada dasarnya hampir sama saja dengan persyaratan “standar” tanaman kayu-kayuan lain, diantaranya:
lokasi datar,dekat sumber air, arah bedengan timur-barat, ukuran bedeng 1 x 5 m, ada parit antar bedengan, ada naungan, dekat dengan jalan dan lain sebagainya.
Penempatan lokasi ditempat datar tujuan utamanya untuk mempermudah penyusunan bumbung, dan penyiraman “terutama penyiraman sistim leb”.
Bila tidak tersedia lahan datar, di lahan miring pun bisa dilakukan. Caranya, dengan membuat sengkedan pada lahan tersebut, sehingga lahan untuk penyusunan bumbung menjadi datar. Bedengan dibuat arah timur-barat, tujuannya agar matahari “pagi” bisa menyinari semua bedengan.
Bila lokasi persemaian ditempatkan pada lahan yang agak miring dan menghadap matahari pagi, maka arah bedengan timur- barat itu menjadi tidak penting.
Ukuran bedengan 1 x 5 m, tujuan utamanya untuk memudahkan pemeliharaan seperti penyiangan, penyemprotan, penyiraman dan lain sebagainya. Ukuran bedengan ini sama sekali tidak mutlak. Apabila bedengan tidak bisa dibuat 1 x 5 m, maka ukuran boleh menjadi lebih kecil. Penggunaan ukuran bedengan lebih besar sebaiknya dihindari. Parit antar bedengan berfungsi sebagai saluran pembuangan air yang berlebih.
Selain itu, parit berfungsi untuk mengurangi kelembaban. Penggunaan parit, menjadi penting pada lahan yang agak becek atau air tanahnya dangkal.
Urut-urutan teknis pelaksanaan persemaian albasia secara garis besar adalah sebagai berikut :
Isilah bumbung dengan media semai. Bumbung bisa terbuat dari potongan bambu ( sunda :bekong ) atau kantong plastik atau polybag. Media semai yang umum digunakan adalah campuran tanah dan pupuk organik “apabila diperlukan”.
Pada tanah yang sangat subur, penggunaan pupuk ini menjadi tidak penting. Bila tanah menghendaki tambahan pupuk, gunakan pupuk organik yang dalam “keadaan siap” artinya pupuk sudah melewati proses pengomposan dalam bahasa sehari-hari biasa disebut pupuk yang sudah dingin.
Ratio tanah dengan pupuk tergantung pada kesuburan tanah dan kandungan hara pada pupuk yang akan digunakan.
Sebagai patokan bisa digunakan ratio 2 : 1 s/d 5 : 1. Penggunaan pupuk organik harus dilakukan hati- hati karena pada pupuk tersebut kadang-kadang dijumpai hama atau penyakit yang bisa mengganggu bibit tanaman. Apabila pada media semai dijumpai hama atau penyakit, biasanya media semai di beri “diaduk” pestisida.
Penggunakan jenis pestisida harus sesuai dengan jenis hama atau penyakit dan mengikuti petunjuk penggunaan. Apabila tidak ada tanda-tanda adanya hama atau penyakit,sebaiknya hindari penggunaan pestisida.
Ukuran bumbung agar disesuaikan dengan kebutuhan ukuran bibit siap tanam. Untuk rencana penanaman di tempat yang terbuka, ukuran bibit tidak perlu terlalu besar ( 30 cm ), berarti bumbung yang digunakan cukup ukuran kecil saja. Untuk rencana penanaman dilahan yang tidak terbuka seperti sistim jalur atau cemplongan, ukuran bumbung bisa lebih besar untuk menghasilkan bibit yang lebih besar ( 40 s/d 60 cm ).
Hindari penggunaan bumbung kecil pada rencana kebutuhan bibit besar,karena kemungkinan akar tanaman akan keluar dan menembus tanah.
Apabila ini terjadi , maka tujuan pembumbungan bibit menjadi hilang.
Bibit yang demikian sudah masuk jenis “bibit cabutan”, dimana kemampuan tumbuhnya “pada waktu ditanam” jauh lebih rendah dibanding bibit pada bumbung. Bumbung yang sudah dimasuki media tanam kemudian disusun dalam bedengan dengan teratur.
Untuk efisiensi tempat dan pemeliharaan, umumnya kantong plastik disusun rapat dalam bedengan.
Kelemahan cara ini bibit tumbuh berdesakan sehingga bersaing dalam mendapatkan sinar matahari, bibit lebih cepat tinggi tapi berbatang kecil.
Apabila tidak segera di sapih bibit yang kalah bersaing akan tertutup oleh yang lebih kuat, dan akhirnya mati.
Untuk mendapatkan bibit yang lebih baik, dianjurkan untuk menjarangkan bumbung. Atau sejak awal penyusunan, bumbung ditempatkan berencana ( sebut :Jarang- jarang ).
Penyemaian benih “ biji “ pada bumbung bisa menggunakan dua cara yaitu : Cara pertama, biji di deder atau ditabur terlebih dahulu di tempat yang terpisah. Setelah cukup tinggi “3 cm s/d 5 cm “ bibit di sapih yaitu dipindahkan ke bumbung.
Cara kedua, benih langsung di semaikan pada bumbung.
Kelemahan cara pertama adalah lebih banyak waktu,tempat dan tenaga yang digunakan.
Pada proses pemindahan, akar atau batang kecambah kadang-kadang menjadi rusak sehingga mengganggu pertumbuhan dan kadang-kadang “disusupi” hama atau penyakit.
Kelemahan cara kedua biasanya penggunaan benih agak banyak.
Kelebihannya pertumbuhan benih tidak terganggu pada proses pemindahan ke bumbung.
Sebelum disemai pada bedeng tabur atau langsung pada bumbung, benih (biji) albasia harus disiram dulu (sunda : dileob) dengan air panas.
Hal ini dilakukan karena kerasnya kulit biji albasia sehingga menyulitkan tumbuhnya bakal tanaman.
Maksud pencelupan biji dalam air panas ini adalah agar kulit biji menjadi pecah sehingga memudahkan masuknya air kedalam biji.
Dengan begitu biji menjadi lunak sehingga memudahkan pertumbuhan lembaga.
Caranya,biji yang sudah disiapkan dalam wadah kemudian disiram dengan air panas ( kira-kira 70 s/d 80 derajat Celsius ) dan dibiarkan sampai airnya menjadi dingin.
Pada proses ini biasanya ada biji yang mengambang.
Setelah beberapa saat, apabila biji terus mengambang maka biji tersebut lebih baik dibuang.
Setelah melalui proses perendaman “ sampai biji berubah menjadi lebih besar karena banyaknya kandungan air ” kemudian airnya dibuang untuk selanjutnya dilakukan pemeraman ditempat lembab untuk memberi kesempatan pertumbuhan pada bakal tanaman.
Biasanya setelah 24 jam atau lebih pada biji sudah kelihatan adanya pertumbuhan yaitu berupa tonjolan berwarna putih (kecambah), jika dibiarkan kecambah ini akan terus memanjang.
Biji yang sudah berkecambah inilah yang akan disemaikan nanti.
Biji yang akan disemai sebaiknya jangan berkecambah terlalu panjang, karena pada proses penyemaian, kecambah yang terlalu panjang ini kadang- kadang patah atau pertumbuhan benih menjadi melengkung.
Umur dan besar bibit siap tanam sebenarnya tidak ada ketentuan yang pasti.
Pada lokasi penanaman dimana pengolahan dilakukan dengan “sempurna” sehingga lahan benar-benar terbuka dan tanah menjadi gembur,bibit yang masih kecil dapat ditanamankan dan menunjukan hasil yang baik karena bibit sedang masa pertumbuhan dan perakarannya samasekali belum menembus bumbung.
Untuk menghindari kerusakan pada saat pengangkutan dan bibit lebih tahan pada saat adaptasi dilapangan, biasa digunakan ukuran yaitu apabila bibit sudah berkayu.
Cirinya, apabila batangnya dipatahkan,maka akan patah seperti layaknya kayu.
Pada usia 3 s/d 4 bulan biasanya bibit sudah mulai berkayu dan siap ditanam.


PERSIAPAN LAPANGAN

Mempersiapkan lokasi yang akan segera ditanami biasa disebut persiapan lapangan.
Kegiatan ini secara garis besar meliputi pembersihan lapangan, pembuatan dan pemasangan ajir, pembuatan lobang tanam, dan pemberian pupuk.
Pembersihan Lapangan Pembersihan lapangan adalah kegiatan membersihkan lahan dari benda atau tanaman lain yang akan mengganggu tanaman pokok .
Macam pembersihan lapangan tergantung dari sistim penanaman yang akan digunakan. Apabila menggunakan sistim lahan terbuka, kegiatan dilakukan dengan membersihkan samasekali lahan dari benda atau tanaman pengganggu lainnya.
Pada sistim jalur atau larikan, pembersihan lapangan hanya mengikuti jalur larikan saja. Sedangkan pada sistim cemplongan, pembersihan lapangan hanya dilakukan pada titik rencana tanaman.
Kedua sistim ini, bisa menekan biaya cukup besar. Kelemahannya yaitu masih banyak tanaman pengganggu terutama perakaran tanaman lain yang suka “mencuri” hara dari lobang tanaman pokok.
Pemasangan Ajir Dan Jarak Tanam Ajir biasanya terbuat dari belahan bambu atau ranting kayu.
Panjang ajir antara 1 s/d 1,5 m, dengan lebar 2 cm. Ajir ditancapkan pada titik calon penanaman bibit sesuai jarak tanam yang digunakan.
Jarak tanam yang sering digunakan pada tanaman albasia adalah 2 x 3 m atau 5 x 5 m.
Saat ini banyak petani yang menggunakan jarak tanam lebih sempit yaitu 2 x 2m bahkan ada yang 2 x 1,5 m.
Untuk mendapatkan tegakan pohon yang tinggi dan lurus, dianjurkan untuk menggunakan jarak tanam yang sempit, tetapi pada proses pemeliharaan harus dilakukan penjarangan agar mendapatkan tanaman yang besar dan tinggi.
Jumlah tanaman yang bisa dipertahankan sampai masa panen adalah 400 batang per hektar dengan sebaran jarak tanam yang seragam.
Pembuatan Lobang Tanaman Pembuatan lobang tanaman dilaksanakan pada titik yang telah diberi ajir.
Ukurannya akan tergantung pada kondisi lahan yang akan ditanami.
Pada tanah ringan atau gembur,lobang tanam bisa dibuat lebih kecil.
Ukuran lobang yang biasa digunakan pada penanaman albasia adalah 20 x 20 x 20 cm atau 30 x30 x 30 cm.
Penyimpanan tanah galian hendaknya dipisahkan antara tanah atas “top soil” dengan tanah lapisan bawah atau “sub soil”.
Pembuatan lobang tanaman sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum penanaman dilakukan, untuk memberi kesempatan agar keasaman tanah dapat dinetralisir secara alami sehingga pada waktu penanaman akar tanaman dapat menyerap hara dengan baik.
Pemberian Pupuk Pemupukan adalah upaya membantu menambah unsur hara pada tanah yang kekurangan unsur hara. Pupuk diberikan apabila lahan kurang subur. Apabila lahan tersebut memang perlu diberi tambahan pupuk maka pupuk yang diberikan sebaiknya pupuk organik, karena disamping dapat menyuburkan tanaman, juga bisa memperbaiki struktur tanah. Jumlah pupuk per lobang tanaman tidak mutlak, tetapi disesuaikan dengan tingkat kesuburan tanah. Volume pupuk yang biasa digunakan untuk penanaman albasia antara 2 kg s/d 5 kg / lobang tanam. Pemberian pupuk sebaiknya jangan terlalu banyak, karena kemampuan akar tanaman masih terbatas. Pemberian pupuk susulan lebih dianjurkan pada saat tanaman mulai menunjukan pertumbuhan. PENANAMAN Kegiatan penanaman merupakan awal kegiatan budidaya yang sesungguhnya. Oleh karena itu, agar mendapat perhatian sungguh-sungguh. Kegiatan ini dimulai dari pemilihan bibit yang akan ditanam. Pilih bibit yang kondisinya sehat, seragam serta belum ada akar yang keluar dari bumbung. Penanaman agar dilakukan dengan hati-hati jangan sampai ada bibit yang patah atau akarnya rusak. Penanaman sebaiknya dilakukan pada saat musim penghujan, karena kebutuhan air akan tercukupi. Di daerah yang persediaan airnya “untuk menyiram” melimpah, penanaman dimusim kemarau meskipun secara teknis tidak dianjurkan tetapi masih bisa dilaksanakan sepanjang kebutuhan air untuk tanaman tercukupi,yaitu dengan cara melakukan penyiraman secara intensif.




PEMELIHARAAN TANAMAN

Keberhasilan budidaya albasia salah satunya ditentukan oleh kegiatan pemeliharaan tanaman.
Kegiatan ini meliputi penyulaman, penyiangan/ pendangiran, pemupukan, penyiraman “bila diperlukan”, pencegahan/pemberantasan hama dan penyakit, pemangkasan dan penjarangan.
Penyulaman Tanaman Penyulaman adalah kegiatan mengganti tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang baik atau diketahui terserang hama atau penyakit.
Kegiatan ini harus dilakukan segera setelah kegiatan penanaman yaitu pada saat tanaman menunjukan pertumbuhan (sunda : lilir).
egiatan penyulaman yang dilakukan terlambat bisa mengakibatkan tanaman sulaman tidak mampu tumbuh seragam dengan tanaman lain karena kalah bersaing dalam mendapatkan unsur hara dan penyinaran matahari. Akibatnya tanaman sulaman akan tumbuh kerdil.
Apabila kegiatan ini dilakukan agak terlambat,usahakan menggunakan tanaman yang sedikit lebih besar.
Penyiangan Dan Pendangiran Penyiangan adalah kegiatan membersihkan piringan tanaman dari tanaman pengganggu.
Untuk efisiensi biaya, kegiatan ini bisa dilakukan bersamaan dengan penyulaman susulan, yaitu apabila pada saat penyiangan didapat tanaman yang masih perlu disulam maka lakukanlah.
Pada kegiatan ini bisa juga diikuti oleh pembersihan lahan dari tanaman pengganggu.
Pembersihan lahan bisa dengan cara manual (di gombrang) atau disemprot dengan herbisida. Pemupukan Pada tanaman muda/kecil sebaiknya digunakan pupuk organik atau boleh dicampur dengan pupuk buatan.
Tanaman albasia mampu memproduksi zat nitrogen (N) “dalam pupuk buatan kandungan N diantaranya terdapat dalam pupuk urea”.
Oleh karena itu, tanaman albasia yang sudah besar tidak terlalu membutuhkan pupuk dengan kandunga N.
Yang perlu mendapatkan perhatian dalam kegiatan ini adalah tanaman “sesuai pertumbuhannya” agar mendapat perlakuan yang berbeda.
Tanaman yang terlambat pertumbuhannya hendaknya di beri pupuk lebih banyak.
Pada tanaman yang subur bisa dilakukan penundaan “untuk sementara” pemupukan atau mengurangi jumlah pupuknya untuk memberi kesempatan pada tanaman yang terlambat agar dapat seragam dengan tanaman lainya.
Pupuk sebaiknya diberikan dengan cara dibenamkan sekeliling batang tanaman jaraknya kira- kira sama dengan luas tajuk daun. Pemupukan ini dapat diulang enam bulan satu kali atau berdasarkan kebutuhan.


PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN HAMA DAN PENYAKIT

Pencegahan dan pemberantasan hama atau penyakit adalah kegiatan yang dimulai dengan pengamatan.
Kegiatan pengamatan adalah kegiatan untuk memastikan apakah tanaman mendapat serangan hama atau penyakit, serta menentukan jenis hama/ penyakit. Apabila ada tanaman yang menunjukan adanya serangan hama atau penyakit maka harus segera dilakukan tindakan pemberantasan.
Mengingat luas dan kompleksnya masalah serangan hama dan penyakit pada tanaman “berlaku untuk semua tanaman”, mengisyaratkan tentang luasnya pengetahuan yang harus dikuasai oleh petani dalam upaya mencegah atau memberantasnya.
Oleh karena itu, mengenai hama dan penyakit tanaman albasia sebaiknya anda memiliki referensi tersendiri dengan pembahasan yang lebih luas.
Ketika petani mendapatkan adanya pengganggu tanaman, banyak diantara mereka yang tidak bisa memastikan apakah pengganggu itu berasal dari hama atau penyakit. Sehingga banyak kesalahan (sebut : tidak tepat) dalam penggunakan pestisida. Hal ini, bukan saja tidak akan berhasil mengatasi serangan, tetapi malah akan menimbulkan kerusakan ekosistem yang ada.
Setiap jenis pestisida memiliki karakteristik serta keampuhan tersendiri sepanjang digunakan tepat sasaran. Hindari penggunaan pestisida dengan coba-coba, karena mungkin akan membahayakan tanaman anda.
Pemangkasan Pemangkasan (pruning) adalah kegiatan membuang cabang atau ranting-ranting yang tidak perlu dengan maksud agar tanaman dapat tumbuh baik, cepat dan menghasilkan kayu yang besar dan lurus.
Pembuangan dahan pada tanaman muda sebaiknya hanya dilakukan pada dahan yang terlalu besar “lebih besar atau sama dengan batang”.
Dahan ini perlu dibuang karena jika dibiarkan kadang-kadang tanaman membentuk cabang dua (sunda : Cagak).
Banyak petani yang melakukan pembuangan cabang tanaman yang masih kecil sehingga yang tersisa hanyalah pucuknya saja.
Perlakuan ini dimaksudkan untuk mendapatkan tanaman yang lurus dan cepat besar.
Di banyak kasus, pembuangan seluruh cabang ini menyebabkan tanaman tumbuh meliuk,dan luka bekas pemangkasan biasanya menjadi pintu masuk bibit hama atau penyakit.
Oleh karena itu,pemangkasan ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Pemangkasan dilakukan pada dahan atau ranting yang memang perlu di pangkas. Jarak pemotongan bagian yang dipangkas dari batang usahakan tidak terlalu dekat,apalagi menyentuh batang. Sebagai illustrasi, di habitatnya setiap tanaman memang tidak pernah dipangkas, tetapi sesuai karakternya tanaman tertentu dapat tumbuh dengan subur,lurus dan besar.
Di alam,tegakan pada kerapatan tinggi akan menyebabkan tanaman tumbuh tinggi dan lurus,sebagai akibat dari persaingan mendapatkan sinar matahari.
Penjarangan Tanaman Penjarangan tanaman bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang terbaik dan dapat tumbuh optimum sampai dengan waktu produksi. Penjarangan dilakukan dalam rangka pemeliharaan atau produksi, dengan mempertimbangkan jarak atau kwalitas tanaman.
Penjarangan pada pemeliharaan tanaman, artinya tanaman yang “dibuang” tidak ditujukan sebagai produksi, tetapi lebih ditujukan untuk memberi kesempatan pada tanaman lainnya untuk tumbuh lebih besar dan baik. Penjarangan dalam rangka produksi, disamping ditujukan untuk memberi kesempatan pada tanaman lain “yang akan dipertahankan sampai produksi akhir”, juga tanaman yang “dibuang” dimaksudkan sebagai produksi.


PEMANENAN

Bagi para petani masa panen adalah “masa gembira” dimana tanaman yang selama bertahun-tahun diusahakan pada akhirnya membuahkan hasil. Meskipun begitu, kegiatan ini memerlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam pelaksanaannya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat panen adalah : Usahakan tanaman tidak menjadi rusak “pecah atau patah” akibat rebah atau kesalahan menentukan takik rebah, atau menimpa kayu yang lain.
Arah rebah pohon usahakan tidak pada tempat yang curam,untuk menghindari sudut rebah yang terlalu lebar.
Usahakan tidak membiarkan kayu hasil produksi terlalu lama dilapangan untuk menghidari serangan hama,penyakit atau busuk.
Pemanenan sebaiknya dilakukan apabila rencana pemasaran sudah pasti. Produksi kayu bisa berbentuk gelondong, pacakan atau kayu gergajian. Semuanya tergantung tujuan pemasaran atau berdasarkan pesanan.

LAHAN PASKA PANEN

Setelah kegiatan pemanenan selsai, lahan bisa digunakan untuk keperluan lain atau akan ditanami kembali dengan komoditas yang sama.
Apabila akan digunakan untuk tanaman sejenis,ada dua cara untuk pelaksanaannya.
Cara yang pertama adalah mengganti dengan tanaman baru dan yang kedua adalah dengan memanfaatkat trubusan pada tonggak tanaman.
Produksi kayu trubusan tidak kalah baiknya dibandingkan tanaman cara penanaman biasa.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila anda akan membudidayakan tanaman cara trubusan diantaranya : Pada saat penebangan pohon, usahakan tonggak tidak mengandung minyak.
Biasanya penebangan dengan menggunakan gergaji mesin “sin shaw” suka meninggalkan minyak “oli ” bekas pelumasan rantai gergaji. Dari Berbagai Sumber
Bagikan
Post a Comment

map


Lihat Pemberdayaan Sengon di peta yang lebih besar

Investasi Yang Luar Biasa

Berita Terbaru

Loading...

Blog Pemberdayaan

Loading...

Translate

Pembibitan Sengon & Pembagian Sengon Gratis Slideshow: Tim’s trip to Jember was created with TripAdvisor TripWow!

Pageviews